
juniansyah.info, SAMARINDA. Rika Novita Soer baru saja menunaikan salat Subuh. Sembari menunggu fajar yang akan menyingsing, Rika asyik bercengkrama hangat dengan sang suami, Zul Asman Randika (43).
Beberapa menit kemudian, tepatnya sekitar pukul 05.30 Wita kemarin (2/9), Rika memacu sepeda motornya. Dia bermaksud untuk mengambil perlengkapan sekolah sang buah hati di rumah. Kebetulan malam sebelumnya Rika bersama suami dan kelima anaknya menginap di rumah orangtuanya di Perumahan Batu Alam Permai (BAP) Jalan Anggrek Sirana, No 59, RT 22, Samarinda Ulu. Sementara Rika dan keluarganya tinggal di kediamannya di Jalan AW Sjahranie, Gang 7.
Pagi itu, Rika membonceng Mutia(14), anak sulungnya. Beberapa menit setelah Rika berlalu, suaminya dengan mengendarai mobil pun menyusul. Rika lebih dulu sampai ke rumah. Dia mengambil sejumlah barang yang diperlukan. Saat itu, suaminya belum juga sampai ke rumah. Meski begitu, Rika dan Mutia memilih untuk kembali ke kediaman orangtuanya di BAP.
Di perjalanan, Rika diincar begal. Diduga begal tersebut sudah membuntuti Rika sejak keluar dari rumahnya. Begal tersebut mengendarai motor seorang diri. Begal terus memepet dan berusaha merampas tas yang dibawa Rika.
Insiden terjadi saat Rika melintas di Flyover Air Hitam. Saat lalu lintas kendaraan tidak begitu padat, begal tersebut berusaha merampas tas selempang di lengan Rika. Namun ibu lima anak itu rupanya tidak ingin menyerah begitu saja. Rika berusaha mempertahankan tasnya dari rampasan jambret.
Namun usaha tersebut justru berujung fatal. Rika terjatuh dari motor. Kepalanya membentur aspal. Darah segar mengucur deras. Sementara Mutia juga terjatuh. Namun tidak begitu mengalami luka serius. Kecuali hanya kaki dan tangannya yang lecet. Saat kondisi Rika lemah, begal yang tidak diketahui identitasnya tersebut berhasil mengambil tas milik Rika. Jambret tersebut diketahui langsung kabur ke arah Jalan Juanda dengan meninggalkan Rika yang terkulai lemah.
Sekitar pukul 06.00 Wita, Zul Asman masih di perjalanan menuju rumahnya. Tepat berada di depan Perumahan Villa Tamara, Jalan AW Sjahranie, Zul Asman menerima telepon yang mengabarkan kejadian tersebut.
Mendengar kabar tersebut, Zul kaget bukan kepalang. Dia langsung memutar balik arah mobil yang dikendarainya menuju Rumah Sakit AW Syahranie. Sampai di rumah sakit, perasaan Zul semakin tak karuan. Wajahnya terlihat pucat. Dia tak kuasa mendengar kabar bahwa istrinya meninggal dunia akibat insiden memilukan ini.
“Saya sangat terpukul mendengar kabar itu,” kata Zul saat ditemui Sapos di kediaman mertuanya, tempat jenazah istrinya di semayamkan sebelum dimakamkan, kemarin siang. “Putri saya selamat. Tapi tangan dan kakinya luka-luka,” tambah Zul dengan suara lirih.
Berdasarkan informasi dari Mutia, putrinya, begal tersebut mengenakan penutup wajah saat menjalankan aksinya. “Kata Mutia (anaknya, Red) dia (begal, Red) cuma satu orang,” tambah pria yang berprofesi sebagai staf dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul ini.
PENDIDIKAN TERAKHIR UNTUK ANAK
Sejak pukul 08.00 Wita, ratusan warga sudah memadati rumah duka di Komplek Perumahan Batu Alam Permai (BAP), Samarinda Ulu. Warga berbondong-bondong untuk ikut memberikan ucapan bela sungkawa. Para pelayat yang datang tidak hanya warga dan keluarga terdekat almarhumah. Nampak pula para guru dan siswa SDIT Cordova, Samarinda.
Zul, tampak tegar, meskipun dia sangat tidak menyangka istri yang dicintainya pergi begitu cepat. Sesaat sebelum kejadian, Zul memang sempat bercengkrama dengan istrinya selama beberapa menit. “Mungkin ini sudah takdir. Saya tidak bisa menolaknya. Mudah-mudahan anak-anak dan keluarga bisa tabah,” ucap Zul.
Pesan terakhir yang diingat oleh Zul adalah saat dirinya diminta untuk selalu menjaga anak-anak dengan memberikan pendidikan yang terbaik. “Almarhumah mengatakan untuk selalu menjaga anak-anak dan memberikan pendidikan yang baik,” tambahnya.
Bahkan permintaan menginap di kediaman orangtua almarhumah pun terkesan tidak biasanya. Sebab biasanya kami hanya sebentar untuk berkunjung.
Almarhumah tidak biasanya meminta untuk menginap. “Ini sudah dua hari kami sekeluarga menginap di rumah orangtua istri saya,” tambahnya Zul lagi. Muhammad Reza, kakak Rika yang datang dari Bontang juga sangat terkejut dengan kejadian itu.
“Saya bertemu dengan adik saya (Rika, Red) ini sekitar dua minggu yang lalu,” kata Reza. Rika Binti H Acmad Syoer Abbas merupakan anak ke-4 dari lima bersaudara. Dia memiliki 5 orang anak, yakni Mutia (14), Aisyah (12), Fauzan (8), Zaki (4) dan Kalila (2). Rika merupakan tenaga pengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Cordova sejak 2000. Terakhir dia mengajar di kelas 3 untuk bidang studi matematika.
Setelah dimandikan, jenazah Rika selanjutnya disalatkan di Masjid Darul Falihin, tak jauh dari rumah duka. Setelah Salat Jumat, kemarin, jenazah Rika dibawa ke pemakaman umum Yayasan Cempaka, Jalan Pangeran Suryanata, Samarinda Ulu.
Ratusan pelayat turut mengiringi jenazah menuju pemakaman. Meski gerimis, pelayat tidak beranjak saat prosesi pemakaman berlangsung. Zul bersama kelima buah hatinya disertai orangtua Rika turut mengantar kepergian almarhumah ke tempat peristirahatan terakhir.
Suasana haru semakin terasa saat jenazah dimasukkan ke liang lahat. Tangisan dan tetesan air mata tak terasa turun dari mata Zul. Mengahiri prosesi pemakaman, Zul memberikan sambutan di hadapan ratusan pelayat. “Saya pribadi dan keluarga memohon maaf jika selama hidup ada kesalahan baik disengaja maupun tidak yang pernah dilakukan istri saya,” ucap Zul dengan uraian air mata.
“Almarhumah merupakan sahabat terbaik saya. Dialah yang selalu mengingatkan tentang waktu salat dan selalu menganjurkan tetap sabar dalam menghadapi masalah,” tambahnya.

No Responses