
SAMARINDA, Dengan tertatih-tatih Wahyu Al Riskom (20) menjalani perawatan pasca ditembak di betis. Sakitnya akibat dua timah panas polisi bersarang di betis kanan Wahyu mungkin tak sebanding dengan penderitaan suami dan anak-anak Rika Novita Syoer. Rika merupakan guru di SDIT Cordova yang meninggalkan suami dan 5 orang anak.
Sambil meringis kesakitan, Wahyu masih mengaku menyesal. “Saya menyesal pak,” ujar Wahyu kepada polisi. Wahyu mengaku tak mengetahui bahwa Novita, yang tasnya sudah dirampasnya tewas di lokasi kejadian. “Saya tak tahu ibu itu (Novita, Red) tewas,” tegas Wahyu. Diakui Wahyu, saat kejadian sebenarnya dia sedang bekerja sebagai satpam di toko swalayan berjualan barang pecah belah di Jalan Pangeran Antasari. Mulai Kamis (1/9) malam, Wahyu kebagian sift jaga sampai Jumat (2/9) pukul 08.00 Wita.
Namun subuh itu, merasa tempat kerjanya aman Wahyu iseng jalan keluar. Ketika itu dia berkeliling. Rutenya Jalan Pangeran Antasari, Jalan Juanda hingga Jalan AW Sjahranie (kawasan Flyover Air Hitam). Tak jauh setelah melintasi flyover, Wahyu melihat Novita berboncengan dengan anak sulungnya, Mutia.
“Mungkin sekitar 300 meter dari fly over, saya lihat ibu itu melintas. Tiba-tiba muncul keinginan saya merampas tas di pundak kanannya,” beber Wahyu.
Selanjutnya Wahyu memutar balik motornya dan mengejar Novita. Sambil mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dengan sekali tarikan tangan kirinya Wahyu merebut tas Novita.
“Sekali tarik saja tasnya sudah berhasil saya ambil. Saya langsung tancap gas ke arah Jalan Juanda,” urai Wahyu. Diakui Wahyu, beberapa detik setelah menarik tas Novita dia sempat mendengar suara benturan. “Suaranya prakkk….,” imbuh Wahyu menirukan suara benturan yang didengarnya.
Meski mendengar suara benturan, Wahyu tak menoleh ke belakang. “Saya cuma mendengar suara benturan, tapi tak ada menoleh. Saya langsung kabur saja. Saya juga tak tahu soal berita di koran atau media sosial (medsos), makanya tak tahu ibu itu sudah tewas,” pungkas Wahyu.
Ya, Wahyu diringkus Selasa (6/9) sekitar pukul 20.00 Wita di tempatnya bekerja sebagai satpam di salah satu swalayan pecah belah di Jalan Pangeran Antasari.
Dasar nekat, meski dikelilingi polisi masih saja Wahyu coba berontak. Dia berusaha kabur dari polisi saat diminta menunjukkan di mana membuang tas milik Novita.
Tak mau mengambil risiko, beberapa tembakan peringatan di lepaskan polisi ke udara. Sayang Wahyu tak mengubris. Dia terus berusaha berlari. Dor… timah panas diarahkan ke betis kanan Wahyu. Sekali tembakan tak membuat Wahyu tumbang dan tetap berusaha berontak. Timah panas yang kedua barulah Wahyu roboh dan meminta ampun. Darah langsung muncrat. Tak ingin mengambil risiko, polisi langsung melarikan Wahyu ke RS IA Moeis.

No Responses