Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih, dua TKW Indonesia yang dibunuh secara sadis oleh seorang bankir Inggris di Hong Kong
Pembunuhan yang dilakukan seorang bankir Inggris terhadap dua wanita asal Indonesia di Hong Kong sangat sadis. Pelaku bernama Rurik Jutting, sedangkan dua wanita korban pembunuhan sadis bernama Sumarti Ningsih (23) dan Seneng Mujiasih (26). Sebelum membunuh, wanita ini disiksa selama tiga hari menggunakan tang. alat mainan seks serta disuruh menjilat mangkuk toilet.
Bankir berusia 31 tahun ini kemudian menggorok leher korbannya menggunakan pisau bergerigi, menyerupai gergaji. Hal itu diungkapkan oleh jaksa di persidangan Rurik, Senin (24/10/2015) seperti dilaporkan DailyMail.
Bankir lulusan Cambridge University ini sempat mengaku tidak bersalah membunuh Sumarti dan Seneng yang ditemukan sudah jadi mayat di apartemen mewahnya. Setelah bukti-bukti lengkap, pria yang bekerja di Merrill Lynch ini kemudian berusaha mengaku bersalah dengan harapan bisa terlepas dari jerat pembunuhan. Ia mengaku sedang dalam kondisi mabuk kokain saat itu.
Jaksa John Reading menceritakan bagaimana Ningsih mengalami tindakan kekerasan brutal dari pelaku. Ia disiksa menggunakan ikat pinggang, mainan seks, sebuah tang serta tinjunya. Setelah menyiksa selama tiga hari, kata jaksa, korban dipaksa untuk menjilat mangkuk toilet. Lalu pelaku memotong leher korban dengan pisau bergerigi.
“Setelah menyiksa selama tiga hari, saya membawanya ke kamar mandi. Saya suruh dia berlutut di depan toilet dengan tangan terikat di belakang punggungnya,” kata Reading menyampaikan pengakuan Ruruk. “Aku menyuruhnya menjilat mangkuk toilet dan kemudian memotong tenggorokannya dengan pisau bergerigi.”
Ningsih mendatangi tempat tinggal Jutting pada 25 Oktober 2014 setelah diiming-imingi dengan sejumlah uang’ yang cukup besar. Setelah membunuh Ningsih, pria ini kemudian membungkus tubuh wanita itu dan memasukkannya dalam koper, lalu diletakkan di balkon apartemen begitu saja.
TKW ini masuk Hong Kong dengan visa turis, memiliki seorang putra berusia lima tahun yang tinggal di Indonesia Dengan orangtuanya. Sementara Mujiasih dibunuh oleh Jutting secara terpisah beberapa hari kemudian. Pria ini bahkan memfilmkan proses pembunuhan menggunakan ponsel.
Petugas menemukan tubuh telanjang Mujiasih dengan luka pisau di kaki dan tubuh bagian belakangnya. Cara yang dilakukan pria ini juga sama terhadap Mujiasih. Ia diajak kencan dengan bayaran tinggi ke apartemennya di dekat distrik Wan Chai, Hong Kong. Mereka bertemu di sebuah bar.
Tangan Mujiasih kemudian diikat di sofa dengan alasan sebagai variasi seks. Namun, Jutting kemudian mengeluarkan pisau dari balik bantal dan mengancam korban yang mulai berteriak-teriak.
“Dia terus berontak dan berteriak, dan aku memotong lehernya,” kata jaksa membacakan pengakuan bankir tersebut.
Aku mulai berhalusinasi Rupanya nomor darurat dan menelepon polisi setelah percaya Apakah datang untuk mendapatkan dia.
Kasus pembunuhan sadis yang membuat heboh ini memunculkan reaksi Aliansi kelompok pekerja migran melakukan aksi demo di luar pengadilan. Mereka mendesak pengadilan untuk menghukum pria yang bertugas di Hong Kong sejak tahun 2005 ini setinggi-tingginya.
Saat ini lebih dari 300 ribu pekerja rumah tangga migran yang bekerja di Hong Kong. Hampir semua berasal dari Indonesia atau Filipina. Kasus ini mengejutkan karena bekas koloni Inggris ini memiliki reputasi sebagai negara yang aman.



No Responses